BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Keterampilan berbahasa terdiri atas keterampilan
berbahasa lisan dan keterampilan berbahasa tulis. Dalam kehidupan sehari-hari,
menyimak dan berbicara merupakan kegiatan berbahasa lisan yang biasa kita
lakukan. Di mana pun kita berada, kedua jenis keterampilan berbahasa ini hampir
selalu kita perlukan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Berbahasa lisan
merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatihkan kepada para siswa
di sekolah. Oleh sebab itu, dalam subunit ini akan dibahas topic Strategi
Pembelajaran Bahasa Lisan. Dalam kegiatan berbahasa sehari-hari, menyimak
dan berbicara berlangsung dalam waktu bersamaan.Pengetahuan dan keterampilan
dalam penggunaan strategi pembelajaran berbahasa lisan merupakan prasyarat bagi
Anda agar mampu melaksanakan pengajaran bahasa di kelas sehingga pada akhirnya
keterampilan berbahasa lisan siswa meningkat dengan baik.
Implikasinya, pembelajaran berbahasa di SD
harus difokuskan pada kemampuan siswa memahami dan menggunakan bahasa sebagai
alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran
keterampilan berbahasa tidak boleh ditafsirkan sebagai mengajarkan memahami dan menggunakan bahasa, tetapi harus
dipahami sebagai mengajak siswa
berlatih memahami dan menggunakan bahasa, terutama di SD. Dengan pemahaman seperti ini, guru
akan terdorong untuk merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran menyimak,
dan berbicara dengan lebih bervariasi lagi sehingga pengalaman belajar dari
kegiatan pembelajaran ini tambah bermakna bagi siswa.
1.2 Rumusan Masalah
·
Apa saja strategi dalam pembelajaran berbahasa lisan?
·
Apa saja permasalahan, solusi dan
jenis-jenis dalam keterampilan menyimak?
·
Apa saja permasalahan, solusi dan
jenis-jenis dalam keterampilan berbicara?
1.3 Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
·
Untuk mengetahui strategi apa saja yang bisa dilakukan
dalam pembelajaran berbahasa lisan.
·
Untuk
mengetahui permasalahan, solusi dan jenis-jenis dari berbagai macam
keterampilan menyimak
dan berbicara
·
Sebagai salah satu syarat dalam
pelaksanaan tugas mandiri dari dosen
mata kuliah
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
strategi dalam pembelajaran berbahasa lisan
strategi dan teknik dalam proses pembelajaran
merupakan dua istilah yang sering digunakan oleh guru . Strategi merupakan
rencana yang cermat mengenai suatu kegiatan untuk mencapai sasaran khusus,
sedangkan siasat merupakan siasat yang dilakukan guru dalam pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk dapat memperoleh hasil yang optimal.
Di dalam
pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan berbahasa yang
menjadi sasaran pokok, yaitu menyimak, berbicara, menuli, dan membaca.
Keterampilan menyimak dan berbicara dikategorikan dalam keterampilan berbahasa
lisan, sedangkan keterampilan menulis dan membaca dikategorikan dalam
keterampilan berbahasa tulis. Menyimak dan berbicara merupakan keterampilan
berbahasa lisan yang amat fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Dengan keterampilan menyimak dan berbicara kita dapat memperoleh dan menyampaikan
informasi. Maka dengan itu menyimak dan berbicara tidak dapat dipisahkan.Agar pembelajaran berbahasa lisan memperoleh hasil
yang baik, strategi pembelajaran yang digunakan guru harus memenuhi kriteria
berikut.
1) Relevan
dengan tujuan pembelajaran
2) Menantang dan merangsang
siswa untuk belajar
3) Mengembangkan kreativitas
siswa secara individual ataupun kelompok.
4) Memudahkan siswa memahami
materi pelajaran
5) Mengarahkan aktivitas
belajar siswa kepada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
6) Mudah diterapkan dan tidak
menuntut disediakannya peralatan yang rumit.
7) Menciptakan suasana belajar
mengajar yang menyenangkan.
Sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SD, dapatlah
dikemukakan beberapa strategi pembelajaran berbahasa lisan sebagai berikut:
1) Simak - Terka
Guru mempersiapkan deskripsi sesuatu benda tanpa
menyebut nama bendanya. Deskripsi itu disampaikan secara lisan kepada siswa.
Kemudian siswa diminta menerka nama
benda itu.
2) Simak --Berantai
Guru
membisikkan suatu pesan kepada seorang siswa. Siswa tersebut membisikkan pesan
itu kepada siswa kedua. Siswa kedua membisikkan pesan itu kepada siswa ketiga.
Begir\tu seterusnya. Siswa trerakhir menyebuitkan pesan itu dengan suara jelas
di depan kelas. Guru memeriksa apakah pesan itu benar-benar sampai pada siswa
terakhir atau tidak.
3) Bermain Peran
Bermain peran adalah simulasi tingkah laku dari orang
yang diperankan. Tujuannya adalah :
(1) melatih siswa untuk menghadapi situasi yang
sebenarnya,
(2) melatih praktik berbahasa lisan secara intensif,
(3) memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan kemampuannya berkomunikasi.
Dalam bermain peran, siswa bertindak, berlaku, dan
berbahasa seperti
orang yang diperankannya. Dari segi bahasa berarti
siswa harus mengenal dan dapat menggunakan ragam-ragam bahasa yang sesuai.
4) Dramatisasi
Dramatisasi atau bermain drama adalah kegiatan
mementaskan lakon atau cerita. Biasanya cerita yang dilakonkan sudah dalam
bentuk drama. Guru dan siswa terlebih dahulu harus mempersiapkan naskah atau
skenario, perilaku, dan perlengkapan. Bermain drama lebih kompleks daripada
bermain peran. Melalui dramatisasi, siswa dilatih untuk mengekspresikan
perasaan dan pikirannya dalam bentuk bahasa lisan
2.2 permasalahan,
solusi dan jenis-jenis keterampilan
menyimak
Tujuan utama pembelajaran menyimak, melatih siswa memahami
bahasa lisan. Oleh sebab itu, pemilihan bahan pembelajaran menyimak harus
disesuaikan dengan karakteristik siswa SD.
Pembelajran
menyimak di kelas rendah sebaiknya tidak disertai dengan kegiatan menulis sebab
kemampuan menulis kelas rendah masih sangat terbatas. Bahan simakan untuk kelas
tersebut sebaiknya berupa perintah, pertanyaan atau petunjuk lisan yang
menghendaki jawaban singkat atau perbuatan sebagai jawabannya.
Secara umum, bahan pembelajaran menyimak dapat menggunakan
bahan pembelajaran membaca, menulis, kosakata, karya sastra, bahan yang disusun
guru senndiri atau ambil dari media cetak. Teknik penyajiannya dapat dibacakan
langsung oleh guru atau alat perekam suara.
Setelah menyampaikan bahan
pembelajaran, guru secara langsung dapat mengadakan Tanya Jawab tentang isi
materi yang sudah disampakannya atau menugasi siswa untuk menjawab pertanyaan
yang sudah disiapkan lebih dulu. Pertanyaan yang baik harus disusun secara
sistematis.
Keterampilan
Menyimak
Menyimak adalah
suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian,
pemahaman untuk memperoleh informasi,menangkap isi atau pesan ,serta
memahami makna komunikasi yang telah disampaikan sang pembicara melalui ujaran
atau bahasa lisan.
Permasalahan dalam menyimak :
Solusi :
1. Konsentrasi
Faktor yang
mengganggu konsentrasi saat menyimak yaitu :
a) Situasi dan
kondisi lingkungan yang tidak nyaman
b) Pakaian
pembicara
c) Orang yang
datang terlambat
d) Kurangnya
penguasaan kata-kata ilmiah
e) Cara pembicara
menyampaian materi yang kurang menarik
Solusinya yaitu kita harus
senantiasa menjaga pikiran agar selalu fokus dan berpusat pada objek
pembicaraan,selain itu juga yang terpenting yaitu niat dan motivasi dari diri
kita sendiri.
2. Pendengaran
Kurangnya data
dengar yang baik dan jelas dikarenakan bisingnya suasana lingkungan,karena ada
gangguan pendengaran dan kurangnya alat yang medukung dalam kegiatan penyampain
materi.
Solusi untuk
mengatasi hal tersebut yaitu kita harus selalu berkonsentrasi supaya apa yang
disampaikan dapat kita terima dengan baik,apabila terdapat masalah dalam
pendengaran sebaiknya diperiksakan ke dokter.
3. Pemahaman
Hal-hal yang
menjadi penghambat proses pemahaman bahan simakan yaitu pembicara menggunakan
kata-kata yang kurang baku,susunan kalimat yang tidak baik,dan kemampuan
mengolah kalimat yang kurang baik.
Solusi untuk hal
tersebut yaitu seharusnya pembicara menggunakan kata-kata yang baku,materi yang
disampaikan harus memiliki susunan kalimat yang baik,dan sebagai penyimak haris
berlatih untuk meningkatkan kemampuan otak dalam konsentrasi dan mengolah isi
kalimat yang disampaikan.
4. Daya Ingat
Daya ingat yang
kurang bisa menjadi penghambat dalam mengerti isi dari bahan simakan
tersebut.Oleh karena itu kita dapat mencatat poin-poin penting dari materi
tersebut,mereview catatan secara periodik,memperhatikan pembicara dengan
seksama.
Ada beberapa
langkah khusus dalam meningkatkan kemampuan mengingat adalah sebagaimana
dijelaskan oleh De Potter (2009) :
a)
Buat sesuatu yang ingin diingat menjadi
lucu.
b)
Baca obyek pertama dan kedua,ucapkan
keduanya dengan keras dan lantang tanpa melihat tulisan.
c)
Setiap selesai mengingat obyek,ulangi
ucapannya tanpa tulisan dengan lantang
d)
Setelah yakin bisa mengingatnya
istirahatlah 10-20 menit.
5. Motivasi
Faktor yang menjadi
penyebab menurunnya motivasi kita untuk menyimak yaitu cara penyampaian materi
yang jenuh serta rasa malas untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Untuk
meningkatkan motivasi,kita harus menguatkan tekad dan niat untuk mendapatkan
ilmu dari simakan tersebut,melawan rasa malas itu dengan cara mengingat akan
manfaat dari isi simakan tersebut,dan memiliki rasa keingintahuan dalam simakan
tersebut.
6. Situasi dan
Kondisi
Situasi dan
kondisi yang kurang baik akan mengganggu konsentrasi kita saat menyimak.Berkaitan
dengan hal tersebut sebaiknya kita memperhatikan situasi dan kondisi ruangan
yaitu mengenai ketenangan ruangan,tempat yang dibutuhkan,dan alat-alat yang
perlu dilibatkan,serta harus siapkan fisik dan mental yang baik dan tidak
lelah.
7. Bahasa/Kosakata
Bahasa yang
digunakan harus disesuaikan dengan keadaan yang ada,memperbanyak membaca karena
dari sana kosakata kita akan bertambah,mencari tahu arti dari kata yang belum
kita tahu,serta konsentrasi agar kita dapat memahami materi yang sedang kita
simak.
Cara memperluas
kosa kata seseorang antara lain dapat dikemukakan:melalui proses
belajar,melalui konteks,melalui kamus,kamus sinonim dan tesaurus,dan dengan
menganalisa kata-kata.
Jenis Menyimak
Jenis jenis menyimak yaitu sebagai berikut :
a. Menyimak Ekstensif
Menyimak
ekstensif adalah kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih
bebas terhadap suatu ujaran,tidak perlu dibawah bimbingan seorang guru.
Menyimak
ekstensif meliputi :
1) Menyimak Sosial.
Biasanya berlangsung
dalam situasi tempat orang mengobrol atau bercengkrama mengenai hal-hal yang
menarik perhatian semua orang yang hadir.
2) Menyimak
Sekunder
Menyimak
sekunder adalah kegiatan menyimak secara kebetulan (casual listening) dan
secara ekstentif (extensive listening).Contohnya saat berpartisipasi dalam
kegiatan sekolah seperti melukis sambil mendengarkan musik.
3) Menyimak
Estetik (Aestetic Listening)
Menyimak
estetik adalah fase terakhir dan kegiatan termasuk ke dalam menyimak secara
kebetulan dan menyimak secara ekstensif.Menyimak estetik mencakup :
a)
Menyimak
musik,puisi,pembacaan bersama,atau drama radio dan rekaman-rekaman.
b) Menikmati
cerita ,puisi,irama dan lakon-lakon yang diceritakan.
4) Menyiamak Pasif
(Passive Listening)
Menyimak pasif
adalah penyerapan suatu ujaran tanpa upaya sadar yang biasanya menandai
uapaya-uoaya kita saat belajar dengan kurang teliti,tergesa-gesa,menghafal luar
kepala,berlatih snatai,serta menguasai suatu bahasa.
Teknik-teknik
menyimak pasif :
a) Berilah otak
dan telinga kesempatan menyimak banyak-banyak.
b) Tenang dan
santai
c) Jangan memasang
rintangan bagi bunyi
d) Berilah waktu
yang cukup bagi otak dan telinga
e) Beri kesempatan
bagi otak dan telinga bekerja,sementara kita mengerjakan sesuatu yang lain.
b. Menyimak Intensif
Menyimak
intensif diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi dan dikontrol.
Jenis-jenis
menyimak intensif :
1) Menyimak Kritis
(Critical Listening)
Menyimak kritis
merupakan sejenis kegiatan menyimak berupa pencarian kesalahan,kekeliruan atau
hal-hal yang baik dan benar dari ujaran pembicara dengan alasan-alasan yang
kuat dan masuk akal.
2) Menyimak
Kreatif (Creative Listening)
Menyimak
kreatif adalah sejenis kegiatan menyimak yang mengakibatkan kesenangan
rekonstruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi,penglihatan,gerak, yang
dirangsang oleh sesuatu yang disimaknya.
3) Menyimak
Eksploratif
Menyimak
eksploratif bersifat menyelidiki,atau exploratory listening adalah kegiatan
menyimak intensif dengan maksud dan tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah
dan lebih sempit.
4) Menyimak
Interogatif
Menyimak
interogatif adalah sejenis kegiatan menyimak intensif yang menuntut lebih
banyak konsentrasi dan seleksi,pemusatan perhatian dan pemilihan butir-butir
dari ujaran pembicara,karena penyimak akan banyak mengajukan pertanyaan.
5) Menyimak
Selektif
Menyimak
selektif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan secara selektif dan terfokus
untuk mengenal bunyi-bunyi asing,nada dan suara,bunyi-bunyi
homogen,kata-kata,frase-frase,kalimat-kalimat,dan bentuk-bentuk bahsa yang
sedang dipelajarinya.
2.3
permasalahan, solusi
dan jenis-jenis dalam keterampilan berbicara.
Keterampilan
Berbicara
Permasalahan
dalam keterampilan berbicara :
Solusi :
1. Kepercayaan
Diri
Percaya diri
merupakan suatu apresiasi bagi diri sendiri.Faktor kurangnya kepercayaan diri
kita yaitu selalu gemetar,tegang,kurang pengalaman,belum terbiasa berbicara
,kurang persiapan,dan pemalu sehingga sulit berbicara.
Solusi untuk
permasalahn tersebut yaitu hendaknya sebelum berbicara kita berdoa terlebih
dahulu,selalu berpikir positif dan tenang,yakin dan fokus pada apa yang tengah
kita sampaikan,sering berkumpul dengan orang yang pandai berbicara,melatih
berbicara yaitu bisa dengan berbicara di depan kaca atau di tempat sepi,sikap
kita harus sopan,menebar
senyum,dan berpakaian rapi,serta mempersiapkan kerangka pembicaraan.
Untuk
mengurangi rasa gugup saat membawakan materi kita harus menjadi diri
sendiri,biarkan personalitas anda menjadi rileks,gunakan teknik menari nafas
dalam,mulai presentasi dimana anda merasa nyaman atau latihan dengan teman bagi
perasaan takut dengan teman.
2. Pengetahuan
Kurangnya
pengetahuan tentang apa yang akan dibicarakan dapat disebabkan karena kita
tidak rajin membaca,sehingga saat akan menyampaikan materi kita akan tidak
percaya diri.Solusinya yaitu rajin membaca,jadikan membaca sebagai kebutuhan.
3. Cara
Penyampaian dan Penyajian
Cara
penyampaian materi yang kurang baik akan membuat pendengar merasa bosan.Hal itu
disebabkan karena percaya diri yang kurang ,ekspresi yang kurang,persiapan yang
kurang dan pemberian penyegaran yang kurang.Oleh karena itu agar cara kita
menyampaikan materi baik kita harus melakukan persiapan yang maksimal yaitu
dengan membaca dan menguasai materi,berlatih berbicara/menyampaikannya dengan bahasa lisan yang
baik dan melatih keterampilan dalam berbicara.
4. Topik/Materi
Salah satu
masalah dalam keterampilan berbicara yaitu materi yang disampaikan kurang menarik.Oleh
sebab itu sebelu kita menyampaikan materi kita harus pintar dan kreatif mencari
topik yang sedang hangatdibicrakan di umum,dan bertanya kepada yang ahli untuk
menambah informasi.
Untuk memilih
sebuah topik yang baik,maka pembicara harus memerhatikan beberapa aspek berikut
:
a)
Topik yang dipilih hendaknya telah
diketahui,serta ada kemungkinan untuk memperoleh lebih banyak keterangan atau
informasi.
b)
Persoalan yang dibawakan hendaknya
menarik perhatian pembicara sendiri.
c)
Persoalan yang dibicarakan hendaknya
menarik pula perhatian pendengar. 5.
Penguasaan Materi
Masalah yang
dihadapi yaitu kurangnya memahami materi yang akan dibicarakan dan malas
memahmi materi.Solusinya yaitu rajin membaca buku agar dapat menguasai materi
yang akan disampaikan.
6. Situasi Kondisi
Pembicara harus
menyiapkan diri lahir maupun batin,suasana harus mendukung kegiatan
tersebut,sarana dalam proses berbicara harus disesuaikan dengan kebutuhan,serta
menyesuaikan pembicaraan dengan keadaan yang sedang berlansung saat itu dan
perhatikan psikologi pendengaran.
7. Penampilan
Penampilan
adalah penentu keberhasilan dalam berbicara.Oleh karena itu penampilan harus
disesuaikan dengan keadaan acara,untuk menarik perhatian pendengar,kita harus
berani berbicara di depan umum,serta kondisi tubuh harus fit.
8. Pengetahuan
Bahasa
Permasalahan dalam
pengetahuan bahasa yaitu meliputi bahasa / pilihan kata yang tidak mudah di
mengerti, berbicara dengan kosa kata yang salah, ketika melafalkan kosa
kata.oleh karena itu pengucapan dalam jeda
kata-kata di sesuaikan oleh kemampuan pendengar,bahasa yang baik dan
benar.
JENIS-JENIS BERBICARA
Bila diperhatikan mengenai bahasa pengajaran akan kita
dapatkan berbagai jenis berbicara. Antara lain: diskusi, percakapan, pidato menjelaskan,
pidato menghibur, ceramah. Berdasarkan pengamatan ada lima landasan yang
digunakan dalam mengklasifikasikan kegiatan berbicara yaitu:
A )
Situasi
Aktivitas berbicara terjadi dalam suasana, situasi, dan
lingkungan tertentu. Situasi dan lingkungan itu dapat bersifat formal
atau resmi, mungkin pula bersifat informal atau tak resmi. Dalam situasi formal
pembicara dituntut berbicara secara formal, sebaliknya dalam situasi tak
formal, pembicara harus berbicara tak formal pula. Kegiatan berbicara yang
bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Suksesnya suatu pembicaraan tergantung pada pembicara dan pendengar. Kegiatan
berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupanmanusia
sehari-hari, Untuk itu, diperlukan beberapa prasyarat.
Jenis kegiatan berbicara informal meliputi :
Ø Tukar pengalaman,
Ø Percakapan,
Ø Menyampaikan berita,
Ø Menyampaikan pengumuman,
Ø Bertelepon
Ø memberi petunjuk (Logan, dkk., 1972 :108).
Sedangkan jenis kegiatan yang bersifat
formal meliputi :
Ø Perencanaan dan penilain
Ø Ceramah
Ø Interview
Ø Prosedur parlementer dan Bercerita (Logan, dkk., 1972:
116)
B )
Tujuan
Akhir pembicaraan, pembicara menginginkan respons dari
pendengar. Pada umumnya tujuan orang berbicara adalah untuk menghibur,
menginformasikan, menstimulasikan dan meyakinkan atau menggerakan
pendengarnya. Sejalan dengan tujuan berbicara tersebut di atas dapat kita
klasifikasi berbicara menjadi 5 jenis, yaitu antara lain:
a. Berbicara menghibur,
biasanya suasana santai, rileks dan kocak. Tidak berarti bahwa berbicara
menghibur tidak dapat membawakan pesan dalam berbicara menghibur tersebut
pembicara berusaha membuat pendengarnya senang gembira dan bersukaria.
Contoh:
Jenis
berbicara ini, antara lain lawakan, guyonan dalam ludruk, srimulat, cerita
kabayan, cerita Abu Nawas dan lain-lain.
b. Berbicara menginformasikan.
Dalam suasana serius, tertib dan hening. Berbicara menginformasikan
pembicara berusaha berbicara jelas, sistematis dan tepat isi agar informasi
benar-benar terjaga keakuratannya.
Contoh:
1.
Penjelasan menteri penerangan mengenai sesuatu kejadian, peraturan pemerintah,
dan sebagainya.
2.
Penjelasan PPL di depan kelompok tani, dan
3.
Penjelasan instruktur pada siswanya.
c. Berbicara menstimulasi,
berbicara menstimulasi juga berusaha serius, kadang-kadang terasa kaku,
pembicara berkedudukan lebih tinggi dari pendengarnya dapat disebabkan oleh
wibawa, pengetahuan, pengalaman, jabatan atau fungsinya yang memang melebihi
pendengarnya. pembicara berusaha membangkitkan semangat pendengarnya sehingga
pendengar itu bekerja lebih tekun, berbuat lebih baik, bertingkah lebih sopan,
belajar lebih berkesenambungan.
Contoh:
1. Nasehat guru
terhadap siswa yang malas, melalaikan tugasnya
2. Nasehat dokter
pada pasiennya
3. Nasehat atasan
pada karyawan yang malas dan
4. Nasehat ibu
pada putrinya yang patah hati
C .
Metode penyampain
Bila belum, perhatikan empat (4) cara yang biasa digunakan
orang dalam menyampaikan pembicaraannya, antara lain yaitu:
·
Penyampaian
secara mendadak, terjadi karena seseorang tanpa direncanakan sebelumnya
harus berbicara di depan umum. Hal ini dapat tertjadi karena tuntutan situasi.
Misal:
Karena pembicara yang telah
direncanakan berhalangan hadir tampil, maka terpaksa secara mendadak dicarikan
penggantinya atau dalam suatu pertemuan seseorang diminta secara mendadak
memberikan kata sambutan, pidato perpisahan, dan sebagainya.
·
Penyampaian
berdasarkan cacatan kecil, biasanya berupa butir-butir penting sebagai pedoman
berbicara. Berbasarkan catatan itu pembicara bercerita panjang lebar mengenai
sesuatu hal. Hal ini dapat berhasil apabila pembicara sudah mempersiapkan dan
menguasai isi pembicaraan secara mendalam sebelum tampil di depan umum.
·
Penyampaian
berdasarkan hafalan, berbicara berdasarkan hafalan memang banyak ke lemahannya,
pembicara mungkin lupa akan beberapa bagian dari isi pidatonya,
perhatiannya tidak bisa diberikan kepada pendengar, kaku dan kurang penyesuaian
pada situasi yang ada.
·
Penyampain
berdasarkan naskah. Berbicara yang berlandalandaskan naskah di laksanakan dalam
situasi yang menuntut kepastian, bersifat resmi dan menyangkut kepentingan
umum.
D . Jumlah
penyimak
Komunikasi lisan melibatkan dua pihak, yaitu pendengar dan
pembicara. Jumlah peserta yang berfungsi sebagai penyimak dalam komunikasi
lisan dapat bervariasi misalnya satu orang, babarapa orang (kelompok
kecil) dan banyak orang (kelompok besar). Berdasarkan jumlah penyimak itu,
berbicara dapat di bagi atas tiga (3) jenis, yaitu:
a. Berbicara antar pribadi,
atau bicara empat mata, terjadi apabila dua pribadi membicarakan,
mempercakapkan, merundingkan, atau mendiskusikan.
b. Berbicara dalam kelompok kecil,
terjadi apabila seseorang pembicara menghadapi sekelompok kecil pendengar,
misanya 3-5 orang
c. Berbicara dalam kelompok
besar. Terjadi apabila seorang pembicara menghadapi pendengar berjumlah besar
atau massa.
h.
Peristiwa khusus
Dalam
kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi berbagai kegiatan. Sebagian
dari kegiatan itu dikategorikan sebagai peristiwa khusus, istimewa atau
spesifik. Contoh kegiatan khusus itu adalah ulang tahun, perpisahan, perkenalan
dan lain-lain. Berdasarkan peristiwa khusus itu berbicara atau berpidato dapat
bigolongkan atas lima jenis.
·
Pidato
presentasi, ialah pidato yang dilakukan alam suasana pembagian hadiah
·
Pidato
penyambutan atau penyambutan berisi ucapan selamat datang pada tamu.
·
Pidato
perpisahan, berisi kata-kata perpisahan
·
Pidato
perkenalan, berisi penjelasan pihak yang memperkenalkan tentang nama,jabatan,
pendidikan, pengalaman kerja, keahlian yang diperkenalka kepada tuan rumah.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Strategi pembelajaran adalah
cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan
pengajaran tertentu, meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat
memberi pengalaman belajar kepada siswa. Strategi pembelajaran terdiri dari
teknik (prosedur) dan metode yang akan membawa siswa pada pencapaian tujuan.
Jadi, strategi lebih luas daripada metode dan teknik.
Untuk meningkatkan keterampilan
berbicara, perlu adanya pembelajaran yang sesuai, salah satunya adalah
pembelajaran dramatisasi kreatif. Dengan pembelajaran dramatisasi kreatif
diharapkan hasil ketrampilan berbicara siswa menjadi meningkat dan lebih baik.
Ketermapilan berbahasa bermanfaat
dalam melakukan interaksi komunikasi dalam masyarakat. Banyak profesi dalam
kehidupan bermasyarakat yang keberhasilannya, antara lain bergantung pada
tingkat ketermapilan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang,misalnya profesi
sebagai manager, jaksa, pengacara, guru dan wartawan.
Saran
Guru tidak dapat melepaskan diri
dari bantuan media dalam melakukan pembelajaran berbicara. Dengan dukungan
media, guru berharap dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa untuk
menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang akan membentuk keterampilan
berbicaranya.
Dalam kegiatan bermain peran, wawancara, diskusi, bertelepon, dan dramatisasi, misalnya guru dapat memanfaatkan media video untuk menampilkan model-model dari setiap kegiatan tersebut. Di samping itu, guru dapat memanfaatkan media gambar untuk kegiatan reka cerita gambar, memberi petunjuk, melaporkan, atau kegiatan lain yang membutuhkan bantuan konkretisasi.
Dalam kegiatan bermain peran, wawancara, diskusi, bertelepon, dan dramatisasi, misalnya guru dapat memanfaatkan media video untuk menampilkan model-model dari setiap kegiatan tersebut. Di samping itu, guru dapat memanfaatkan media gambar untuk kegiatan reka cerita gambar, memberi petunjuk, melaporkan, atau kegiatan lain yang membutuhkan bantuan konkretisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar